7 Kesalahan Berbahasa Indonesia yang Sering Dilakukan oleh Penulis

3 min read

kesalahan berbahasa indonesia

Menulis merupakan sebuah cara komunikasi secara langsung selain berbicara. Hanya saja, dibandingkan dengan berbicara menulis memiliki aturan yang lebih jelas, termasuk dalam Bahasa Indonesia. Oleh karenanya, kesalahan berbahasa Indonesia pada tulisan lebih mudah terdeteksi.

Alasannya, sebuah tulisan bisa dibaca ulang sementara suara hanya bisa didengar satu kali. Inilah yang menjadikan kesalahan dalam berbahasa lebih mudah dideteksi dalam bentuk tulisan. Belum lagi aturan-aturan yang membentengi dalam menuliskan sebuah gagasan atau ide dalam format tulisan.

Meski demikian, nyatanya penulis pun tak lepas dari kesalahan-kesalahan dalam penulisan. Jelas untuk seorang profesional, seharusnya kesalahan-kesalahan tersebut dapat dihindari. Berikut beberapa kesalahan berbahasa Indonesia yang sering para penulis sering lakukan:

1. Awalan di- vs Kata Depan di

Kesalahan berbahasa Indonesia yang pertama membawa kenangan kembali lagi ke materi Bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar. Penggunaan ‘di’ sebagai awalan dan kata depan memiliki perbedaan.

Untuk awalan, kata ‘di’ hanya akan disandingkan dengan kata kerja dan dituliskan secara bersambung. Contohnya adalan dimakan, diminum, dibajak, dimasak, dan lain sebagainya. Yang perlu diingat cukup jika mengiringi kata kerja, maka penulisan ‘di’ adalah disambung.

Sementara itu sebagai kata depan, ‘di’ harus dituliskan secara terpisah dengan kata yang mengikutinya. Selain kata kerja, maka penulisannya terpisah. Biasanya untuk menunjukkan waktu dan tempat. Misalnya saja seperti di sekolah, di pagi hari, di saat, di kota asal, dan lain-lain.

2. Partikel lah, kah, dan tah vs Partikel pun vs Partikel per

Dalam Bahasa Indonesia dikenal istilah partikel atau kata tugas. Setidaknya ada 5 jenis partikel ini, namun pada poin ini hanya akan membahas mengenai partikel yang memiliki fungsi sebagai penegas. Ada 5 jenis partikel penegas ini, yaitu partikel lah, kah, tah, pun, dan per.

Kelimanya memiliki cara penulisan yang tidak sama, yakni sebagai berikut:

  • Partikel lah, kah, dan tah dituliskan secara bersambung dengan kata yang diikuti. Contohnya: [Makanlah dulu sebelum pergi]; [Siapakah nama anak bungsu Pak Ahmad?]; dan [Apatah penting menangisi orang seperti dia?]
  • Partikel pun ditulis secara terpisah dengan kata yang diikuti. Misalnya saja apa pun dan siapa pun. Hanya saja, ada pengecualian di sini untuk partikel pun yang menjadi bagian dari kata penghubung, maka harus ditulis secara bersambung. Contohnya yakni walaupun, meskipun, bagaimanapun, dan adapun.
  • Partikel per dituliskan secara terpisah dengan kata yang diikuti jika memiliki arti sebagai ‘demi’, ‘tiap’, ‘mulai’. Contohnya seperti: [Bagikan bingkisan-bingkisan ini satu per satu]; [Pak Hasan menjual ayam-ayam peliharaannya sebesar Rp100.000 per ekornya]; dan [Peraturan yang baru akan diberlakukan per 1 Juni 2020].

3. Penulisan Mata Uang

Selanjutnya kesalahan dalam penulisan Bahasa Indonesia yang sering terjadi yakni kesalahan dalam penulisan mata uang. Seringkali lambang mata uang diberi spasi atau tanda titik sebelum diikuti oleh angka nominal.

Padahal aturan penulisan yang benar, setelah lambang mata uang, langsung diikuti oleh nominal bilangan. Jadi yang benar adalah Rp100.000,00 – angka nominal uang langsung dituliskan setelah lambang Rp tanpa spasi dan titik.

4. Tanda Titik (.) vs Tanda Titik Dua (:)

Tak jarang penulis masih kurang bisa membedakan kapan harus menggunakan tanda titik (.) dan kapan harus menggunakan titik dua (:) untuk mengakhiri sebuah kalimat. Khususnya bila paragraf dianggap telah berakhir dan diikuti dengan daftar.

Sebagai pembeda, tanda titik dua (:) digunakan jika akan menyebutkan beberapa hal. Ciri-ciri yang paling terlihat adalah ketika kalimat diawali dengan [berikut…], [… di antaranya], [inilah…], dan sejenisnya, maka harus menggunakan tanda titik dua (:) meskipun berada di ujung paragraf.

5. Penulisan Kapitalis

Kesalahan berbahasa Indonesia lain yang sering dilakukan oleh penulis adalah penulisan huruf kapital. Selain kata pertama dalam setiap kalimat, ada beberapa hal lain yang perlu ditulis secara kapitalis.

Nama orang, nama tempat, agama, kitab suci, nama Tuhan, serta merek sebuah produk perlu dituliskan dengan huruf kapital. Selain itu, penulisan kapitalis juga digunakan untuk penulisan jabatan yang diikuti nama orang, kata sapaan untuk menyebut orang, gelar yang telah menjadi kata sapaan, serta gelar kehormatan.

Tak hanya itu saja, penulisan sub judul juga perlu menggunakan huruf kapitalis. Hanya saja, jika dalam kalimat terdapat kata hubung, maka penulisan kata hubung tersebut tidak mengikuti aturan kapitalis. Untuk lebih jelasnya, simak contoh berikut ini:

  • Sambutan akan disampaikan oleh ketua panitia, Ahmad Hambali
  • Pantai Parangtritis menjadi destinasi wisata andalan di Jogja
  • Allah menurunkan Al-Quran sebagai pedoman hidup bagi umat Islam
  • Setiap hari, adik harus minum Milo
  • Jenderal Ahmad Yani masih menjadi panutan hingga saat ini
  • “Baik, perintah Kapten akan saya sampaikan.”
  • Bapak dan Ibu telah berangkat untuk mengunjungi Nenek
  • Pentingnya Pendidikan dalam Pembangunan Bangsa

6. Kata Ulang

Pasti sudah tak asing dengan penulisan kata ulang yang menggunakan tanda hubung (-). Kesalahan penulisan yang sering terjadi adalah digunakan atau tidaknya spasi sebelum dan sesudah tanda hubung (-) tersebut.

Jawaban yang benar adalah kata tidak perlu menggunakan spasi. Jadi penulisan yang tepat yaitu: anak-anak, siswa-siswi, bahu-membahu.

Di samping itu, kekeliruan lain yang sering terjadi yakni saat harus menuliskan kata berulang secara kapitalis. Seringkali kedua kata dituliskan secara kapitalis, padahal harusnya hanya kata pertama saja yang seharusnya kapitalis. Hanya saja, aturan ini tidak berlaku untuk nama lembaga, nama diri, atau dokumen. Untuk lebih jelasnya, berikut contoh lengkapnya:

  • Undang-Undang Hukum Perdata
  • Asas-Asas Hukum
  • Slogan Ramah-tamah

7. Kata Berbahasa Asing

Penulisan kata berbahasa asing dalam tulisan Bahasa Indonesia haruslah dituliskan secara cetak miring. Ini untuk menunjukkan bahwa kata tersebut bukan merupakan Bahasa Indonesia. Kata asing ini termasuk juga bahasa daerah ataupun bahasa yang tidak baku.

Artinya, selama kata yang digunakan tidak bisa ditemukan di dalam KBBI, maka dapat dikategorikan sebagai kata asing. Contoh penulisan kata asing yang tepat adalah sebagai berikut:

  • Pada sistem perbankan syariah, nasabah bisa memilih simpanan secara wadi’ah atau mudharabah.
  • Kata batik berasal dari Bahasa Jawa, babat saka sak titik.
  • Bersikap peduli pun perlu dibatasi, agar tidak membuat baper yang justru akan merepotkan di kemudian hari.

Hanya saja, aturan ini tidak sepenuhnya berlaku untuk penulisan fiksi. Pada penulisan fiksi, bahasa pop (bahasa yang tengah berkembang pada masyarakat) seringkali digunakan sebagai latar cerita dan  dituliskan apa adanya. Akan tetapi, bahasa daerah dan kata berbahasa asing masih dituliskan secara cetak miring.

Masih ada kesalahan berbahasa Indonesia lain yang juga kerap kali dilakukan oleh seorang penulis. Akan tetapi, kesalahan penulisan yang paling sering terjadi adalah ketujuh kesalahan yang disebutkan di atas. Pada dasarnya, gaya penulisan memang sulit untuk diubah, namun bukan berarti hal-hal teknis tidak bisa diperbaiki.

Mengenali Anchor Text dan Bagaimana Meletakkannya di Dalam Artikel

Ketika membaca sebuah artikel online, tak jarang pembaca menemukan sebuah kata atau frasa yang bisa diklik dan mengarahkan pada sebuah laman tertentu. Itulah yang...
penulis
3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *