Lebih Dekat dengan Apa Itu UX Writing, Ladang Profesi A la Milenial

3 min read

Belakangan ini, ada istilah UX writing yang semakin banyak didengar, khususnya yang berkecimpung di dunia digital. Profesi sebagai UX writer banyak dibuka pada situs-situs lowongan kerja. Lalu, apa itu UX writing sebenarnya?

Di Indonesia, istilah UX writing maupun UX writing memang masih belum banyak terdengar gaungnya. Terlebih bagi masyarakat awam yang hanya mengenal profesi paten – dokter, PNS, polisi, tentara, dan sejenisnya. Padahal profesi sebagai seorang penulis sudah semakin banyak digeluti.

Ayo Kenalan dengan Dunia UX Writing

UX sendiri merupakan kependekan dari user experience. Ini merujuk pada tulisan yang bercerita tentang pengalaman saat menggunakan suatu produk – utamanya produk digital. Secara garis besarnya, jawaban dari pertanyaan tentang apa itu UX writing bisa juga diartikan sebagai petunjuk pemakaian.

Contoh paling mudah yang bisa ditemukan di keseharian adalah petunjuk cara memasak mie instan. Di bagian belakang kemasan, tertera bagaimana cara memasak mie instan yang paling standar. Nah, petunjuk itu juga bisa disebut sebagai sebuah UX writing.

Meskipun, pada praktiknya istilah UX writing menjadi populer berkat perkembangan dunia digital saat ini. Misalnya saja ketika membuka aplikasi Gojek, pasti ada keterangan arahan mengenai apa yang harus dilakukan. Keterangan yang bisa membantu pengguna untuk mengoperasikan aplikasi itulah UX writing.

Dari situ, bisa ditarik kesimpulan, bahwa fungsi dari UX writing adalah sebagai petunjuk arah bagi pengguna. Tak hanya mie instan atau aplikasi saja yang membutuh UX writing. Website dan blog pun butuh UX writing untuk mengarahkan para pengguna dalam pengoperasiannya.

Pentingnya UX Writing

Meskipun tahu tentang apa itu UX writing, mungkin ada yang bertanya-tanya, apa pentingnya? Toh, dengan simbol atau logo pun orang akan bisa menavigasikan aplikasi, website, blog, ataupun produk digital lainnya.

Sayangnya, anggapan tersebut tak bisa sepenuhnya diberlakukan. Ada faktor X yang menjadikan sebagian pengguna tak bisa memahami cara pengoperasian jika hanya mengandalkan pada simbol atau logo. Misalnya saja, pengguna merupakan orang yang awam dengan produk tersebut.

Di sinilah keahliah dari seorang penulis UX dibutuhkan. Penulis UX akan menerjemahkan simbol dan logo yang ada ke dalam bahasa yang lebih bisa dipahami oleh orang kebanyakan. Bahasanya pun harus dibuat singkat, padat, dan jelas agar maksud yang diinginkan bisa tersampaikan dengan baik.

Misalnya ketika akan memesan ojek online melalui aplikasi Gojek. Anak sekolah tak akan merasa kesulitan untuk menemukan menu mana yang harus dipilih serta apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Berbeda halnya dengan ibu paruh baya yang tak begitu familiar dengan ponsel pintar. Perlu ada kalimat pengingat ‘pastikan lokasi sudah tepat’ untuk membuat si ibu memahami bahwa ia diminta untuk memasukkan lokasi penjemputan serta ke mana tujuannya.

Selain itu, adanya tulisan UX juga memberikan keuntungan bagi produk agar tampak lebih bersahabat. Ini penting, mengingat sebuah produk butuh kesetiaan pelanggan demi kelangsungan perusahaan.

Langkah Mudah Menuliskan UX

Pemahaman akan apa itu UX writing memang butuh proses yang panjang. Meski demikian, bukan berarti prosesnya harus berliku. Berikut adalah beberapa langkah mudah dalam menuliskan sebuah UX yang adaptasi dari Think with Google:

1. Ketahui Gambaran Besarnya

Hal pertama yang perlu dilakukan ketika akan menuliskan sebuah UX yaitu ketahui gambaran besar mengenai apa yang harus dituliskan. Produk apa yang akan ditulis, apa fungsinya, siapa sasaran penggunanya, dan detail lainnya.

Intinya, buatlah detail serinci mungkin yang mencakup semua informasi demi menuliskan sebuah UX yang tepat. Jika perlu, buatlah daftar pertanyaan mengenai poin-poin penting yang harus diketahui dari produk agar tulisan yang dihasilkan benar-benar komprehensif.

Ada baiknya juga meminta hasil riset mengenai usability testing dari produk serta review dari pengguna. Dengan begitu, UX akan bisa dituliskan dengan baik dan bisa mencakup semuanya.

2. Jadilah Pengguna

Jika poin pertama penulis harus memposisikan diri sebagai si pemilik produk, maka pada poin ini penulis harus berpikir sebagai pengguna. Penulis pun harus bisa memahami apa yang pengguna rasakan ketika menggunakan produk tersebut.

Hal ini perlu dilakukan, mengingat UX perlu dituliskan demi kemudahkan pengguna dalam mengoperasikan produk. Untuk bisa melakukannya, maka penulis harus memasang mindset sebagai pengguna. Tulisan seperti apa yang bisa memudahkan pengguna pada setiap menu yang ada.

3. Tahu Mana yang Prioritas

Selanjutnya, masih berhubungan erat dengan kedua poin sebelumnya. Penulis harus tahu mana yang diprioritaskan dari produk yang akan dituliskan UX-nya. Itulah mengapa langkah pertama tadi sangat penting untuk dilakukan.

Tak hanya bertanggung jawab pada tulisannya saja, penulis UX juga bisa memberikan masukan mengenai tampilan dari produk. Misalnya, layanan yang diunggulkan dari sebuah catering adalah menu paket untuk acara pernikahan. Maka, harus dipastikan bahwa menu tersebut ada di halaman utama website demi menarik perhatian pengguna.

4. Terus Lakukan Uji Coba

Hal terakhir dan yang paling penting ketika menuliskan sebuah UX adalah harus terus melakukan uji coba. Artinya penulis tidak boleh bosan untuk mencoba menelaah tulisan yang telah dituliskannya dari awal hingga akhir.

Apakah tulisan UX yang telah dituliskan sudah bisa mewakili rasa penasaran pengguna, memudahkan, atau justru menyulitkan. Uji coba ini juga bisa dilakukan dengan melibatkan banyak pihak. Dengan begitu, akan ada banyak masukan untuk bisa memperbaiki narasi yang digunakan dalam UX yang dituliskan.

Tips Jitu Agar Tulisan UX Merupakan Satu Kesatuan dalam Sebuah Produk

Proses penulisan sebuah UX memang sangat berbeda dengan tulisan konten ataupun copy. Sebagai tambahan, berikut ada beberapa tips dalam menuliskan UX yang bisa diperhatikan:

  • Tentukan timeline. Sama halnya seperti kegiatan menulis lainnya, penulis UX pun butuh batas waktu yang jelas. Oleh karenanya, buat jadwal rencana kerja secara terperinci serta buat target milestone agar tidak diburu waktu ketika mendekati deadline.
  • Buat karakter dari produk. Karakter yang dimaksud di sini adalah kepribadian dari produk. Jadi, bayangkan saja jika produk tersebut adalah seseorang, maka orang seperti apa yang muncul di benak. Hal ini bisa membantu penulis dalam menentukan tone serta gaya bahasa penulisan yang digunakan.
  • Tentukan garis besar tulisan UX. Biasanya, seorang penulis UX akan bertanggung jawab pada satu produk secara menyeluruh. Tujuannya adalah agar apa yang dituliskan memiliki satu kesatuan dari awal hingga akhir. Oleh karenanya, tentukan arah garis besar tulisan yang dibuat.
  • Jangan bosan dengan Poin ini memang sangat penting dan perlu kembali diulang, meski telah disinggung sebelumnya. Setiap feedback yang masuk dapat menjadi perspektif tambahan untuk menyempurnakan tulisan UX yang dihasilkan.

Demikian ulasan singkat mengenai apa itu UX writing. Meskipun profesi sebagai penulis UX tak banyak yang tahu, namun kesempatannya terbuka lebar. Apalagi, posisi sebagai seorang penulis tidak akan bisa digantikan oleh mesin sekalipun. Bisa dibilang, UX writer memiliki peran untuk ‘memanusiakan’ sebuah produk.

Mengenali Anchor Text dan Bagaimana Meletakkannya di Dalam Artikel

Ketika membaca sebuah artikel online, tak jarang pembaca menemukan sebuah kata atau frasa yang bisa diklik dan mengarahkan pada sebuah laman tertentu. Itulah yang...
penulis
3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *